SuaraTimurDaily.co.id, Banyuwangi – Pesatnya arus transformasi digital memang membuka keran pasar yang lebih luas bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Namun, di balik kemudahan promosi dan transaksi daring, bayang-bayang kejahatan siber kian mengintai para pelaku usaha yang minim perlindungan data.
Merespons potensi ancaman tersebut, Anggota DPR RI Dapil Jawa Timur III (Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso), Sonny T. Danaparamita, S.H., M.H., menginisiasi Pelatihan Keamanan Digital Marketing bagi Pelaku UMKM. Inisiatif ini terwujud lewat kolaborasi strategis bersama APAC Cyber Security Fund dan Rumah Demokrasi Gagasan dan Inspirasi (DEGIRI), serta didukung oleh Majelis Ekonomi Bisnis dan Pariwisata PP Muhammadiyah.
Kegiatan yang digelar di Rumah Aspirasi DEGIRI, Mondoluko, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, pada Jumat (31/7/2026) ini diikuti puluhan pelaku UMKM lintas sektor—mulai dari kuliner, kerajinan batik lokal, hingga jasa pariwisata.
Dalam pembukaannya, Sonny menegaskan bahwa pemanfaatan media digital seperti WhatsApp, Instagram, hingga TikTok tidak boleh sekadar berfokus pada strategi penjualan, tetapi juga harus diimbangi dengan kesadaran menjaga keamanan akun dan transaksi.

“Kemampuan beradaptasi dengan teknologi harus berjalan seiring dengan pemahaman mendasar mengenai perlindungan data. Jangan sampai kerja keras pelaku usaha runtuh akibat penipuan atau peretasan akun,” tegas Politisi PDI Perjuangan tersebut.
Pelatihan ini menghadirkan praktisi sekaligus akademisi Elok Rosyidah, S.E., M.M. sebagai narasumber utama. Elok membeberkan bahwa meskipun mayoritas UMKM sudah aktif memanfaatkan platform digital untuk pemasaran, tingkat kerentanan mereka terhadap serangan siber masih tergolong tinggi.
Dalam pemaparan materinya Elok Rosyidah menjelaskan bahwa mayoritas peserta telah memanfaatkan media digital, seperti WhatsApp, Instagram, hingga TikTok, sebagai sarana promosi produk dan layanan mereka.
Ia mengatakan, penggunaan platform digital menjadi langkah awal transformasi UMKM. Namun, semakin tinggi aktivitas digital, semakin besar pula risiko yang harus diantisipasi.
“Keamanan siber merupakan upaya untuk melindungi data, sistem, jaringan, dan perangkat dari akses yang tidak sah. Tujuannya menjaga kerahasiaan informasi, melindungi data pribadi maupun bisnis, serta meminimalkan risiko kerugian akibat kejahatan digital,” jelas Elok.

Pada pelatihan ini para peserta dibekali pemahaman mengenai berbagai modus kejahatan digital yang paling sering memakan korban dari kalangan UMKM, antara lain: Phishing: Penipuan berkedok tautan atau pesan resmi. Pembajakan Akun: Pengambilalihan akun media sosial bisnis secara ilegal. Pencurian Data: Kebocoran informasi sensitif milik pelanggan maupun identitas usaha.
Sebagai langkah pencegahan awal, Elok menekankan agar para pelaku usaha mampu melakukan tindakan mitigasi mandiri yang praktis dan efisien seperti Memperkuat Kata Sandi, Aktivasi Autentikasi Dua Faktor (2FA) atau Menambahkan lapisan verifikasi tambahan pada setiap akun bisnis, Kewaspadaan Tautan: Tidak sembarangan mengklik tautan tidak dikenal dari sumber yang mencurigakan serta melaukan Pembaruan Sistem Berskala dengan rutin memperbarui sistem operasi dan aplikasi pada perangkat kerja.
Sesi pelatihan berlangsung interaktif melalui ruang diskusi terbuka. Para peserta saling berbagi pengalaman terkait kendala keamanan yang pernah mereka hadapi saat menjalankan bisnis secara daring.
Melalui pembekalan literasi digital ini, Sonny berharap para pelaku UMKM di Banyuwangi tidak hanya makin tangguh secara ekonomi, tetapi juga cerdas dan mandiri dalam mengamankan aset digital mereka di tengah persaingan pasar modern.








