BANYUWANGI – Ratusan peternak ayam petelur di Kabupaten Banyuwangi kini berada di ujung tanduk. Anjloknya harga telur di pasaran yang tak kunjung teratasi membuat mereka terancam gulung tikar.
Merasa kebijakan perlindungan dari pemerintah tak berjalan di lapangan, Asosiasi Peternak Unggas Maju Makmur Banyuwangi mengadukan nasib mereka ke Rumah Aspirasi Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Sonny T. Danaparamita, di Genteng, Banyuwangi.
​Di tengah sorotan publik terhadap berbagai program gizi pemerintah, realita di tingkat produsen akar rumput justru menceritakan kisah yang sebaliknya.
Baca juga : Sonny T Danaparamita Tanamkan Nilai Kebangsaan Melalui Lomba Mewarnai Peringati Bulan Bung Karno
​Pemerintah sejatinya telah berupaya merespons anjloknya harga telur. Salah satunya melalui Surat Edaran Badan Gizi Nasional (BGN) Nomor SE/01/06/V/2026 yang mendorong penyerapan telur lokal untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kementerian Pertanian (Kementan) juga mewajibkan Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat peternak sebesar Rp26.500 per kilogram, sebuah ketetapan yang dikawal langsung oleh Satgas Pangan Polri.
​Namun, di mata Anggota Komisi IV DPR RI, Sonny T. Danaparamita, aturan tersebut gagal diimplementasikan dan tidak berdampak nyata bagi peternak.
​”_Surat Edaran terkait HAP yang dikeluarkan BGN dan dikawal Satgas Pangan Polri itu hanya semacam macan ompong. Jangankan membeli dengan harga ketetapan, para Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lapangan membeli telur ke peternak hanya sesuai harga pasar yang anjlok di angka Rp20.000 per kilogram,_” ungkap Sonny dengan tegas.

Baca juga :Â Dari GARASI hingga Rogojampi, Sonny Kampanyekan Makan Ikan untuk Lawan Stunting
​Mirisnya lagi, pembayaran dari pihak SPPG kepada peternak menggunakan sistem tempo hingga satu minggu setelah telur diterima, yang jelas semakin mencekik perputaran modal peternak rakyat.
​Kondisi kritis ini dijabarkan secara rinci oleh Ketua Asosiasi Peternak Unggas Maju Makmur Banyuwangi, Ilham Budianto. Ia memaparkan hitung-hitungan matematis yang membuktikan betapa beratnya beban para peternak saat ini.
​Jika seorang peternak memiliki populasi 600 ekor ayam dengan tingkat produksi 80 persen, mereka menghasilkan sekitar 480 butir atau setara 28 kilogram telur per hari.
Apabila HAP pemerintah (Rp26.500/kg) benar-benar berjalan, pendapatan kotor harian mencapai Rp748.000.
​Namun, realitanya harga pasar saat ini hanya Rp20.000 per kilogram. Hal ini berbenturan keras dengan tingginya biaya produksi:
– ​Kebutuhan pakan harian: 72 kilogram
– ​Harga pakan jadi: Rp7.600 per kilogram
– ​Total biaya pakan: Rp547.000 per hari
​Dalam kondisi ideal (harga Rp26.500/kg), peternak masih bisa mengantongi sisa keuntungan kotor harian Rp201.000, yang pada akhirnya menyisakan laba bersih Rp1,96 juta per bulan setelah dipotong biaya tenaga kandang (Rp720.000) dan biaya operasional lain seperti vitamin, listrik, dan air (Rp1,5 juta).
Baca juga :Â Peringati Hari Lingkungan Hidup Se-Dunia, Rumah Aspirasi Sonny T Danaparamita Gotong Royong Bersihkan Sungai
​”_Kondisi saat ini jauh lebih berat karena harga di pasar hanya sekitar Rp20.000 per kilogram. Dengan harga itu, alih-alih untung, peternak justru mengalami kerugian sekitar Rp3,5 juta per bulan. Itu pun belum memperhitungkan penyusutan kandang dan investasi awal,_” keluh Ilham.
​Siklus usaha ini semakin memberatkan mengingat modal awal pembelian ayam pullet (siap bertelur) untuk 600 ekor mencapai Rp60 juta (Rp100.000/ekor).
Penjualan ayam afkir di akhir masa produktif (17 bulan) yang diprediksi menghasilkan Rp16,3 juta jauh dari cukup untuk menutupi kerugian bulanan yang terus membengkak.
​Melihat fenomena anjloknya harga telur yang berpadu dengan melambungnya harga pakan, Sonny mendesak Kementerian Pertanian untuk segera mengevaluasi program pemberdayaan masyarakat. Khususnya, program pemberian bantuan 600 ekor ayam petelur kepada kelompok masyarakat.
​Menurutnya, jika ekosistem harga pakan dan harga jual telur tidak segera distabilkan oleh negara, niat baik pemerintah bisa menjadi bumerang.
​”_Kalau ini tidak segera diatasi, program yang niatnya bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat justru realitanya malah sedang membuat jebakan yang menyeret masyarakat pada kesulitan ekonomi,_” pungkas Sonny.
Baca juga :Â Sonny T Danaparamita Salurkan Hewan Kurban untuk Masyarakat Situbondo pada Idul Adha 1447 H
​Ke depannya, Asosiasi Peternak Unggas Maju Makmur Banyuwangi menaruh harapan besar agar pemerintah benar-benar hadir.
Mereka menuntut realisasi langkah konkret untuk menekan harga pakan dan memastikan negara, termasuk pelaksana Program Makan Bergizi Gratis, menyerap hasil ternak rakyat dengan harga yang layak dan manusiawi. Jika tidak, kebangkrutan massal peternak rakyat hanyalah tinggal menunggu waktu.








