JAKARTA – Harga cabai rawit kembali bikin warga mengeluh. Pada pekan ketiga September 2026, harga cabai rawit mencapai Rp77.596 per kilogram. Kenaikannya juga bukan hanya terjadi di satu-dua daerah, melainkan sudah menyebar di 265 kabupaten/kota atau sekitar 73,61 persen wilayah Indonesia.
Kapoksi PDI Perjuangan di Komisi IV DPR RI, Sonny T. Danaparamita, meminta pemerintah tidak gampang menutup persoalan dengan alasan El Niño. Menurutnya, cuaca memang berpengaruh terhadap hasil pertanian, tetapi pemerintah harus sudah punya persiapan sebelum dampaknya terasa di pasar.
“Dalam beberapa kesempatan saya selalu sampaikan, persoalan cuaca itu harus menjadi alarm bagi kita. Jangan sampai ketika terjadi gagal panen atau hasilnya tidak sesuai harapan, kita langsung menyalahkan cuaca,” kata Sonny.
Baca juga : Sonny Ingatkan Pemerintah, Stok Aman Saja Tak Cukup, Harga Pangan Harus Terjangkau
Ia memahami El Niño yang berintensitas kuat dan mundurnya musim hujan di banyak zona memang membawa tekanan bagi petani. Namun, kondisi seperti itu justru harus mendorong pemerintah untuk lebih cepat menghitung kebutuhan pasokan dan memperkuat kesiapan di daerah-daerah sentra produksi.
“Kalau kita sudah tahu ada ancaman cuaca, ya mitigasinya harus disiapkan. Jangan menunggu cabai mahal dulu baru sibuk mencari penyebabnya. Antisipasi harus disusun dari awal supaya risikonya bisa ditanggulangi,” ujarnya.
Sonny menilai harga cabai tidak hanya ditentukan oleh hujan atau kemarau. Ada soal luas tanam, pola panen, produktivitas, cadangan pasokan, distribusi antardaerah, sampai ongkos angkut yang ikut menentukan harga di pasar.
Baca juga : Sonny T. Danaparamita Salurkan Bantuan Mesin Kapal untuk Nelayan Situbondo
Ketika produksi di satu daerah terganggu, pasokan dari daerah lain belum tentu bisa cepat masuk. Akibatnya, harga langsung bergerak. Di sisi lain, harga tinggi di pasar juga belum tentu membuat petani untung besar. Biaya pupuk, perawatan, tenaga kerja, dan pengiriman tetap harus mereka tanggung.
“Pemerintah harus membenahi dari hulunya. Embung, sumber air alternatif, irigasi, teknologi hemat air, sampai benih yang sesuai dengan kondisi daerah harus disiapkan. Jangan tiap ada perubahan cuaca, petani yang paling dulu menanggung akibatnya,” tegasnya.
Sonny berharap pemerintah pusat dan daerah lebih serius memetakan masa tanam, sentra produksi, serta jalur distribusi cabai. Dengan begitu, gejolak harga tidak terus berulang dan masyarakat tidak selalu dibebani harga pangan yang mahal.
Baca juga : Sonny Danaparamita Minta Menteri Kehutanan Segera Banding atas Putusan PTUN









