JAKARTA – Anggota Komisi IV DPR RI Sonny T. Danaparamita mengingatkan pemerintah agar tidak hanya melihat ketersediaan stok pangan nasional. Menurut dia, pangan yang tersedia harus benar-benar bisa dibeli masyarakat dengan harga yang wajar.
“Pangan tidak cukup hanya tersedia, tetapi harus terjangkau. Ketika harga berbagai kebutuhan pokok masih tinggi, pemerintah perlu memastikan stabilisasi berjalan dari hulu sampai ke pasar,” kata Sonny , Rabu (23/9/2026).
Pernyataan itu disampaikan Sonny menyusul harga sejumlah bahan pokok di tingkat pedagang eceran nasional. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia pada Selasa (22/9), cabai rawit merah tercatat Rp95.000 per kilogram. Telur ayam ras berada di angka Rp30.000 per kilogram.
Baca juga : Sonny T. Danaparamita Salurkan Bantuan Mesin Kapal untuk Nelayan Situbondo
Harga cabai merah keriting tercatat Rp70.050 per kilogram, cabai rawit hijau Rp68.200 per kilogram, dan cabai merah besar Rp57.650 per kilogram. Sementara bawang merah dijual Rp37.450 per kilogram dan bawang putih Rp39.090 per kilogram.
Untuk beras, harga kualitas bawah berada di kisaran Rp14.700 hingga Rp14.900 per kilogram. Beras kualitas medium dijual Rp16.400-Rp16.600 per kilogram, sedangkan beras kualitas super berada pada kisaran Rp17.350-Rp17.900 per kilogram.
Minyak goreng curah tercatat Rp20.400 per liter. Minyak goreng kemasan bermerek dijual antara Rp23.500 hingga Rp24.350 per liter. Adapun gula pasir lokal berada di angka Rp19.150 per kilogram, sementara gula kualitas premium Rp20.350 per kilogram.
Baca juga : Sonny Danaparamita Minta Menteri Kehutanan Segera Banding atas Putusan PTUN
Sonny menilai, pemerintah perlu melihat kembali jalur distribusi pangan dari daerah penghasil sampai ke pasar. Biaya angkut, distribusi antardaerah, hingga harga yang terbentuk di tingkat pengecer perlu ditelusuri.
Sebab, kata dia, harga mahal di pasar belum tentu berarti petani dan peternak mendapatkan harga yang baik dari hasil produksinya.
“Kalau masyarakat membeli dengan harga mahal, sementara petani dan peternak juga belum menikmati harga yang layak, berarti ada mata rantai yang harus dibenahi. Jangan sampai beban paling besar justru dipikul rakyat dan produsen kecil,” ujarnya.
Sonny meminta pemerintah pusat bersama pemerintah daerah lebih rutin memantau komoditas yang rentan berubah, terutama cabai, telur, beras, dan minyak goreng. Langkah untuk menjaga harga, menurut dia, harus melindungi masyarakat tanpa mengabaikan kepentingan petani, peternak, dan nelayan.
Bagi Sonny, ketahanan pangan tidak cukup dilihat dari angka produksi maupun stok di gudang. Masyarakat harus bisa memperoleh pangan di pasar dengan harga yang tidak memberatkan pengeluaran keluarga.









